October 24, 2012

MIMPI

diambil dari fashiongonerogue.com



        Ketika saya membuka laptop, mata saya langsung tertuju kepada desktop background model berbalutkan rancangan Giambatista Valli pada Paris Haute Couture 2013. Saya termangu pada keindahannya. Dress hijau lumut itu diberikan aksen pada leher dan sepanjang kaki jenjang model tersebut. Saya berpikir bagaimana caranya seorang Valli bisa sekreatif ini? Atau terus menerus sekreatif sekonsisten ini?
           Saya tidak habis pikir. Perancang busana selalu dituntut untuk berinovasi terus menerus. Mereka menciptakan karya sesuai intepretasi masing-masing serta menyesuaikan selera pasar yang fluktuaktif. Pemikiran saya sempat berkali-kali bergumam apakah akan ada saatnya ketidaksengajaan penciptaan karya yang serupa antar desainer? Sebagai contoh kasus hak cipta sol merah Louboutin yang pernah kita dengar. Bukankah ini semua hanya persoalan mengolah bahan utama, selembar bahan, yang bisa membuat indah tubuh manusia? Apakah keadaan ini masuk ke dalam fase kejenuhan, fase kosongnya ide atau fase apa?
Di tengah-tengah kemajemukan kreativitas perancang busana Indonesia, saya selalu berusaha menemukan ciri khas masing-masing. Saya yakin perbedaan itulah yang menciptakan jati diri yang unik pada tiap-tiap perancang busana. Pernyataan itu membawa saya kepada pertanyaan, jika saya seorang perancang busana, keunikan apakah yang akan saya bawa? Kreativitas seperti apakah yang akan saya kembangkan?
Mungkin tulisan ini lebih banyak membahas mengenai saya dan cara berpikir saya tentang mode. Saya masih awam mengenai mode maka harus banyak belajar. Saya telah menghadiri beberapa pagelaran busana dan sekadar menjadi penikmat alias penonton saja. Sering, saya ingin naik level dalam dunia mode, setidaknya mode Indonesia. Entah menjadi perancang busana, reporter mode di majalah atau apa saja asal saya bisa memberikan kontribusi bagi dunia itu. Saya juga masih belajar mengenai budaya Indonesia dan berharap bisa memadupadankannya dengan dunia mode. Budaya Indonesia memiliki potensi yang kaya untuk diolah dengan kreativitas yang matang sehingga sedap dilahap segala pancaindera. Itulah mimpi saya.
Terkadang saya takut kehabisan gagasan untuk disajikan ke khalayak ramai. Misalnya dalam menulis atau merancang sketsa saja saya sering berhenti pada suatu titik. Saya masih banyak tidak tahu tentang bahan, material mode dan lain sebagainya. Saya tidak bisa menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa membayar sekolah mode yang memang cukup mahal. Ketidaktahuan memang seperti pisau bermata dua. Ia bisa membuat kita berhenti berpikir dan benar-benar berhenti atau malah memacu untuk mengeksplor pengetahuan lebih dalam. Kita tinggal memilih dua opsi tersebut untuk menjawab.
Namun, apapun kendalanya saya masih tetap memperjuangkan mimpi saya. Mengasah kreativitas, membentuk jati diri yang solid dalam karya sendiri baik dalam rancangan maupun tulisan, dan mungkin mencari celah untuk selalu mendapat tempat di industri mode yang sangat ketat dengan cara yang positif adalah beberapa cara yang bisa saya lakukan. Yang terpenting adalah berharap Tuhan memberikan saya kesempatan untuk menjemput kesempatan yang ada. Karena berkontribusi dan menjadi saksi tumbuh kembangnya dunia mode Indonesia adalah pekerjaan yang saya cita-citakan.

No comments: