May 31, 2014

4 FASHION REASONS TO VISIT LONDON EXPOSED!

      Pergi ke London cuma buat ngeliat fashion store-nya Topshop di Oxford Circus? Kenapa nggak?
     Jika elo mengganggap London hanya sebagai ‘surga’ sepakbola, nampaknya elo harus berpikir ulang. Nggak hanya lapangan hijau Etihad Stadium atau Old Trafford aja lho yang mampu menarik banyak orang di dunia. Runway-runway millik para desainer London pun juga demikian. Begitu eratnya kaitan London dengan fashion membuat kota tersebut didaulat menjadi salah satu pusat mode dunia. Kita nggak harus pergi ke New York atau Paris buat merasakan the best fashion experience karena London punya sejuta alasan buat kita untuk datang ke sana. Gue udah merangkum empat alasan penting mengapa London menjadi destinasi fashion yang bikin gue tertarik banget buat ke sana. (and you may will be interested too!) Penasaran? Keep calm and read this special post thoroughly karena perjalanan kita mengarungi fashion London akan segera dimulai. :D


LONDON'S UNIQUE PERSONALITY


      Satu hal dasar yang nggak bisa dipisahkan dari fashion adalah inspirasi, yang bisa datang dari mana aja, termasuk dari kota setua London. Kota ini punya beragam hal klasik yang masih dipertahankan sampai sekarang, misalnya Buckingham Palace (dibangun tahun 1703), black cab (dari tahun 1958), dan red telephone box (tahun 1920-an). Selain itu, ada juga item fashion yang masih bisa kita liat langsung, misalnya custodian helmet yang biasa digunakan polisi Inggris dan Wales dan seragamnya yang nggak berubah sejak 1863. Nggak cuma itu aja, bahkan tradisi minum teh yang sejak abad ke-19 udah ada pun juga masih sering berlangsung. Kebayang banget nggak, ribetnya cewek-cewek dari jaman dulu sampai sekarang yang rempong dress-up buat tradisi yang biasanya disebut Afternoon Tea ini? hehehe...
     Kalo bosen sama yang 'tua-tua', pemandangan London yang modern juga asik banget dinikmatin, baik dengan London Eye atau turun ke jalan langsung dengan Double Decker. London juga punya galeri seni outdoor dengan wujud street-art yang dibuat oleh seniman-seniman yang pastinya terinspirasi juga dari keindahan kota tersebut.

 

      Selain masih masih mempunyai harta bersejarah dan pemandangan yang ciamik, London juga punya sisi lain yang menarik. Kota tersebut sangat menghargai para 'pahlawan'­-nya, misalnya dengan cara membuat museum bagi karya Beatles dan Sir Arthur Conan Doyle. Nggak ketinggalan, London punya display of Platform 9 ¾ di King’s Cross yang diadaptasi dari film dan novel super fenomenal Harry Potter karya J.K. Rowling. Wah, seru banget ya kalo bisa ngeliat langsung ke sana!
      Overall, London emang sangat menghargai hal-hal yang klasik dan vintage tapi di sisi lain selalu terusik buat terus up-to-date. Percaya ga percaya, kalo diibaratkan secara personifikasi, seorang London yang berkepribadian bertolak belakang itu memang 'mirip' kayak seorang gue lho. Makanya gue kepengen banget bisa ke London dan terinspirasi langsung dari kota tersebut.


THE STYLISH ROYAL TRENDSETTER


      Sebagaimana yang kita tahu, Royal Family adalah salah satu icon British yang terkenal. Karena mereka bangsawan dan selalu diperhatikan oleh milyaran pasang mata di seluruh dunia, ya sudah sewajarnya mereka memiliki taste fashion yang tinggi. Sejak abad pertengahan, orang-orang sudah mencoba untuk meniru gaya busana kelas atas ala keluarga kerajaan, misalnya dari tren korset langsing ala Queen Elizabeth I sampai gaya elegan dan minimalis khas Kate Middleton sekarang. Bahkan kita masih ngikutin tren pakai baju hitam sebagai simbol dukacita lho, yang pada mulanya dipopulerkan sekitar awal tahun 1900-an oleh Queen Victoria. Selain baju, Bristish juga punya iconic royal hat yang sejarahnya nggak kalah panjang sama bangunan-bangunan tua di Inggris. Dari pergi ke gereja sampai acara-acara formal Inggris yang buanyak banget, pemakaian topi ini sudah menjadi budaya sendiri bagi British bahkan menjadi crown substitute. Sejarah fashion dari kalangan Royal Family memang panjang banget ya. Pantes aja banyak museum yang punya lusinan koleksi pakaian-pakaian bersejarah yang nunjukin betapa pentingnya fashion bagi sejarah British. Buat yang suka ke museum apalagi yang isinya baju-baju gini pasti semangat banget ngeliatnya nih. Atau kalau beruntung bisa langsung ngeliat baju yang dipakai Queen Elizabeth II pas seliweran di Buckingham Palace. Hehehe... Jadi tambah pingin (pake banget) nggak sih ke sana? Absobloodytely!


THE BRITISH-MODSTYLE DOMINO EFFECT


      Ngomongin fashion Inggris, nggak sah kalo belom tau tentang era kejayaan fashion Inggris yang paling terkenal, yaitu di tahun 60-an. Di kala itu, sesuatu yang dianggap tren adalah flared skirt dan model-model yang berlekuk tubuh curvy kayak Marilyn Monroe. Semua itu perlahan lenyap ketika supermodel Twiggy dan Jean Shrimpton muncul mempengaruhi dunia dengan gaya mod style mereka. Gaya tersebut identik dengan tubuh kurus, riasan mata bermaskara berat, dan yang paling penting adalah pemakaian miniskirt berwarna terang dengan material kain yang tidak biasa (seperti plastik PVC). Mod style tentu saja menggebrak fashion dunia dengan gaya yang lebih seru dan adventuruous.
      Di balik kemunculan miniskirt yang revolusioner tersebut, tentu ada pelopornya, yaitu seorang perancang British bernama Mary Quant. Beliau adalah seorang desainer yang selalu terinspirasi dari sesuatu yang baru dan memiliki selera 'kekanak-kanakan' dalam artian positif. Kebebasan dan extravagant juga merupakan inspirasi bagi beliau. Mary Quant mengambil inspirasi dari Mini, mobil British yang terkenal, untuk menamai rok miliknya yang dipakai pertama kali oleh Twiggy. Pada awalnya, miniskirt memiliki panjang sekitar lima sentimeter di atas lutut. Seiring perjalanan, miniskirt bertambah pendek dan pendek dan bermodifikasi menjadi hotpants. Thanks to her, sampai sekarang pun miniskirt masih menjadi salah satu tren dunia yang sangat berpengaruh. Bahkan rumah mode Louis Vuitton pun baru beberapa tahun yang lalu mengeluarkan miniskirt versi LV. Miniskirt memang patut long-last berada di dunia mode karena kesannya yang seksi tapi nggak pernah outclassed. 
      Hmm... Kira-kira first store-nya Mary Quant yang pertama kali dibuka di King’s Cross masih ada nggak ya sampai sekarang? Apa masih ngejual the first miniskirt juga? Bisa banget lah ya mampir ke sini kalau ke King's Cross :D


THE LIVING MODERN FASHION OF LONDON

 
      Jika di masa lalu punya Mary Quant, di masa sekarang pun, kota dengan negara yang memiliki bendera Union Jack ini masih punya banyak 'pahlawan' fashion yang masyur. London bahkan disebut-sebut memiliki desainer-desainer yang lebih hebat dibanding kota mode dunia lain. Sebenarnya apa sih yang membuat fashion London begitu spesial? Mendiang Alexander McQueen pernah berkata, “British fashion is self-confident and refuses to bow to commerce, thus generating a constant flow of a new idea whilst drawing on British heritage.” Setuju banget dengan McQueen karena gaya para desainer British memang dinamis, seru, dan fearless dalam mengolah inspirasi tetapi tetap memiliki ciri khas. Nggak jauh berbeda kan sama kepribadian London yang udah kita bahas tadi? Selain membuat penemuan-penemuan desain yang super kreatif, baju karya para desainer tersebut tetap bisa wearable at any event. Jadi, rancangan-rancangan itu nggak cuma sekadar piece of art aja yang inaccessible dan berakhir di pajangan museum atau galeri seni. Salah satu desainer British yang punya garis rancangan seperti itu adalah Christopher Kane yang dinobatkan sebagai London’s number one designer oleh  Marie Claire UK. Bahkan Vogue UK juga bilang bahwa Kane adalah icon in the making. Weeeewww, the British designers are truly such an inspiration, aren't they? Di mana lagi bisa ngeliat baju-baju super mindblowing kalo bukan di Inggris?
      Kalo para dinasti majalah fesyen papan atas punya seorang Christopher Kane, buat gue yang mempunyai sisi imaginatif dan suka banget sama teknik printing (teknik cetak) on dress, gue punya tiga jagoan perancang busana British lain. Yang pertama adalah Peter Pilotto, seorang desainer yang berfokus pada rancangan yang edgy, modern, urban dan tentunya memakai graphic printing yang oke punya. Beda sama Mary Katrantzou, desainer kedua yang juga merupakan favorit gue. Meskipun sama-sama punya ciri khas teknik cetak, desain Mary Katrantzou lebih feminim daripada Peter Pilotto. Teknik cetak yang digunakan juga biasanya berwujud realism seperti foto landscape alam dan sering memakai hiasan tiga dimensi seperti bunga-bunga dan rumbai yang menambah kesan wanitanya. Lain halnya dengan Alexander McQueen, desainer ketiga favorit yang rupanya juga merupakan public’s most favorite designer. Nggak kaget kalo dibilang begitu karena genetik desain McQueen yang avant-garde, mewah, super elegan bak dewi surgawi tetapi berunsur imaginatif dan sering berkesan 'aneh' ini emang bagus banget.
      Kalo buat high-street label yang lebih affordable di kantong, tentu aja pemenangnya jatuh kepada Topshop yang merupakan favorit gue dari dulu. Gaya Topshop yang edgy, keren, anak muda banget, seru dan modis abis membuat gue jatuh cinta. Ga pernah salah kostum deh pake brand satu ini. Banyak juga street-stylers yang sering mengklaim Topshop sebagai brand favorit mereka. Gue kepengen banget ngeliat store-nya langsung yang ada di London buat ngebuktiin kata-katanya Vogue UK: “The Topshop flagship store on Oxford Circus makes fashionistas all over the world wish they lived here.”. Alright, it seems I have to bring all of my bedroom’s stuffs when I fly to London.
      Nah, rancangan oke karya desainer-desainer kreatif London ini emang kurang lengkap kalo belom dipake di badan seseorang, nggak hanya untuk sehari-hari aja tapi juga untuk datang ke acara-acara penting. Karena hal itu, lahirlah banyak fashion icons yang menjadi kebanggan Inggris karena keahlian mereka dalam memadumadankan tiap piece karya para desainer dengan gaya personal unik dan inspiring mereka. The fashion icons bisa berwujud fashion blogger, model, selebritis, sosialita, desainer itu sendiri sampai anggota royal family. Siapa aja tuh Fashion icons dari Inggris? Banyaak banget! Sebut aja yang paling terkenal yaitu supermodel Agyness Deyn, Kate Moss, dan Naomi Campbell, si modis Alexa Chung, sampai Princess Kate Middleton. Buat male fashion icon, Inggris punya duo David: mantan pesepakbola David Beckham dan model ultra ganteng David Gandy.
      Wah, kalau jadi pergi ke London pas autumn, jangan-jangan bisa langsung kepasan London Fashion Week dan ngeliat para fashionista-nya nih? Street-style mereka pasti keren-keren banget buat difoto terus dimasukin ke blog ya. Mudah-mudahan juga bisa ketemu Kane/Pilotto/Katrantzou beneran, seenggaknya lagi papasan di jalan. Gue mau foto bareng sih yang jelas. Biarpun bakal deg-deg-an abis dan kaki tangan gue gemeteran banget juga gak ngefek ya... hehehe! A'ight!!!
      Sebenernya masih banyak lagi sih kalo mau ngomongin fashion-nya London, misal shopping places yang terkenal di sana kayak Edgware, Middlesex (biasa disebut Topshop Outlet) yang barang-barangnya didiskon 70% dan banyak promo buy one get one free (WHAT?!), Beyond Retro yang ngejual vintage stuff, dan King’s Road. Tapi karena gue orangnya suka windows-shopping aja nggak pake belanja, jadi nanti kalo Mr. Potato, Ko Alex sama temen-temen ngajakin gue ke London, jangan pada kesel ya kalo gue udah lama-lama di toko tapi nggak beli apa-apa. Hahahaha…
      Buat gue, nulis tentang Inggris aja jadi bikin tambah semangat buat pergi ke sana. Kenapa harus Inggris? Udah jelas kan kalo gue nyama-nyamain punya kesamaan dengan Inggris, dari profil kota London sampai selera fashion-nya. Jika gue beneran bisa ke Inggris, selain buat traveling dan nyari hal baru untuk ngeblog, pelajaran paling penting yang bakal gue dapet adalah suntikan motivasi bagi gue sendiri buat terus menggapai cita-cita gue. Yaa siapa tau kan suatu hari nanti gue bisa jadi desainer yang lebih oke punya daripada my idols Peter Pilotto atau Sarah Burton (desainernya McQueen sekarang). Menyerap inspirasi dari London sebanyak-banyaknya pasti bikin gue bisa semakin terpacu buat terus belajar jadi desainer yang baik. Selain itu, gue bisa buktiin ke diri gue sendiri kalo mimpi gue nggak sekadar angin lalu aja. Ya, itu semua udah dimulai dan pergi ke London harus jadi bagian dari perjalanan gue.

(All collages made by Marsela Christie. Thanks to Pinterest, Gogirl! Magazine, Vogue Italy, Vogue UK, Marie Claire UK, england.org.za, Mister Potato and all supporting websites)

No comments: