February 27, 2018

MENDALAMI MINDFULNESS UNTUK HIDUP YANG LEBIH BAIK


Jepang

Kalau kamu bertanya negara mana yang ingin saya tinggali, tentu negara matahari terbit adalah salah satu dalam daftar teratas saya.

Sebagai penggemar mie, ramen Jepang bisa menjadi pilihan santap saya sehari-hari. Ditambah minat saya pada mode Jepang yang playful seperti harajuku, cosplay, lolita, dan seragam anak sekolahnya yang cute banget yang pastinya menginspirasi sekali. Belum lagi penemuan-penemuan inovatif nan unik seperti vending machine makanan 24 jam sampai capsule hotel dijamin buat kita pengin sering-sering ke Jepang untuk merasakan pengalamannya.



Di antara sekian alasan, saya paling suka Jepang karena budayanya. Selain teratur dan rapi, orang-orang Jepang sangat menikmati hidup dengan prinsip mindfulness for others atau memikirkan (keberadaan/kepentingan) orang lain. Prinsip ini dianggap membuat masyarakat Jepang menjadi masyarakat yang maju seperti saat ini.


Life goals banget, ya? 😄

Kebayang nggak, di Indonesia, kalau kita lupa mencabut kunci motor, apa motor kita akan tetap berada sama di tempatnya? Kalau kita sedang kerja di tempat ngopi yang ramai, apakah aman untuk sekadar meninggalkan laptop dan tas kita di kursi untuk ke toilet? 🙈

***

Lebih jauh tentang mindfulness

Mindfulness di Jepang mengingatkan saya pada pengalaman kerja saya terdahulu. Kalau Jepang punya mindfulness for others, tempat saya bekerja (sebuah perusahaan aplikasi mobile untuk diet) memiliki pola pikir mindful eating.

Mindfulness sendiri adalah kesadaran penuh penerimaan atau senantiasa berada. Ini adalah sebuah prinsip yang mendorong seseorang untuk menjadi versi terbaiknya. Mindful eating adalah salah satu cara untuk mencapai versi terbaik itu.

Awalnya, saya nggak percaya dengan mindful eating bisa menolong seseorang untuk mencapai berat badan idealnya. Sampai akhirnya saya dan tim menemukan banyak kisah sukses dari para anggota komunitas kamiMungkin nggak sih menurunkan 11 kilogram dalam lima bulan dengan menjalani mindful eating?

Jawabannya: A BIG YES! 💪


Kisah sukses ini dilakukan tanpa cara instan tetapi dengan membentuk kebiasaan sehat yang secara sadar dilakukan sehari-hari. Misalnya makan penuh kesadaran (pelan-pelan, tidak tergesa-gesa), mengatur porsi makanan, memilih buah-buahan sebagai camilan daripada gorengan, dan masih banyak lagi. (tulisan selengkapnya oleh saya, di sini) Hal sederhana seperti mindful eating ternyata bisa berdampak besar dan bukan tidak mungkin untuk mengubah kehidupan seseorang. 

Kabar gembiranya, kita semua bisa menjadi seseorang dengan kisah sukses itu.

Berkaca pada pengalaman inilah, saya percaya bahwa mantra mindfulness tidak hanya mujarab untuk mencapai berat badan ideal tetapi juga meningkatkan mood dan produktivitas seperti yang diterapkan para warga Jepang.

Ibarat bumbu dapur, memasak dengan bumbu mindfulness, masakan apa saja bisa jadi enak tapi juga sehat. 😌😌😌 


***

Berlatih mindfulness dalam mengelola uang

Salah satu resolusi saya di tahun 2018 ini adalah bisa mengatur keuangan dengan lebih baik, apalagi saya juga berencana liburan ke Jepang. Tapiiiiii.......... ini sih PR banget buat saya yang hobinya jajan terus pake GoFood. Hal simpel seperti sudah berapa uang yang saya keluarkan setiap harinya seringkali terlewatkan dan tidak terhitung. Kecil-kecil memang jumlahnya, tetapi kalau dihitung per bulan bisa buanyak! 👻

Banyak hal yang sudah saya lakukan untuk mengatur keuangan supaya lebih baik, misalnya membatasi jumlah uang di rekening, menghindari membawa uang cash terlalu banyak, dan lain sebagainya. Tetapi perubahan ini hasilnya tidak begitu signifikan.

Saya pun melirik mindfulness untuk menjadi alternatif solusinya.

Gimana caranya?

Well, saya mencoba belajar lagi tentang mindfulness dengan mengulik beberapa obrolan podcast dalam aplikasi mobile Inspigo. Saya mendengar beberapa podcast menarik, terutama dari Ivandeva Wing dan Adjie Santosoputro, para suhu yang mengajarkan mindfulness dalam keseharian. Ternyata, banyak cara mudah dan sederhana dalam melatih mindfulness, lho! Tidak cuma meningkatkan mood dan produktivitas, saya percaya mindfulness juga dapat membantu saya dalam mencapai tujuan saya, yaitu menabung untuk berlibur ke Jepang!

Berikut ini beberapa caranya 😉


1. Tarik napas dalam, hening sejenak


Tarik napas dalam-dalam dan hening untuk berpikir jernih. Ini hal yang harus dilakukan saat melihat saldo tabungan yang semakin menipis yang sering kali menakutkan hahaha 👻  Dengan begini, kita bisa menjaga mood dengan kepala dingin dan membuat keputusan yang lebih baik, terutama urusan keuangan.


2. Senantiasa mencatat dan mencoba perspektif baru


Kalau tadi kita sudah belajar bernapas dalam-dalam, sekarang saatnya kita mengecek dan mencatat, apa saja pengeluaran yang sudah dilakukan hari ini, minggu ini, atau bulan ini. Let's embrace it!


3. Berdamai dengan ketidakcukupan

Pernah nggak kita berada di saat membutuhkan sesuatu dan ingin berbelanja, tapi apa daya budget sudah terlalu tipis? Menurut prinsip mindfulness: berpikirlah dan berdiamlah sejenak dulu.

💭
💭
💭

Kemudian berpikir kreatif.

Mungkin ini saatnya mencari produk substitusi yang lebih murah atau menggunakan voucher gratisan! Hahaha 👻👻👻


Nah itu cara-cara mengatur keuangan ala saya dengan prinsip mindfulness. Cukup simpel dan sederhana, bukan?

Saya baru beberapa hari menerapkan tips di atas tapi manfaatnya sudah mulai terasa. Saya semakin aware dalam menggunakan uang. Slot jajan yang biasanya sudah habis di pertengahan minggu kini masih tersisa banyak dan bisa dipindahkan ke slot tabungan. Jadi nggak sabar mau melihat progress-nya di akhir bulan ini :-)

Dalam beberapa bulan, mungkin angkanya bisa melebihi target tabungan untuk jajan ramen Ichiran setiap hari di Jepang! 😝

***

Jadi, apa tujuan hidupmu?

Apapun itu, saya percaya bahwa mindfulness bisa membantumu mencapainya. Karena sesuatu yang besar dimulai dari hal-hal kecil, mudah dan sederhana. Yuk mulai berlatih mindfulness dari sekarang!

---Tulisan blog ini dibuat untuk mengikuti sebuah kompetisi (makanya tone of voice-nya beda 💁) tapi ga menang, yauda gapapa, legowo aja.

No comments: